Satu dari Pemikiran Faiz Manshur yang Wajib dibaca
Kenapa aku mengcopy paste tulisan ini? karena dari pertama mengetahui Pak Faiz via Sosmed aku selalu meniru ide-ide beliau. Mulai dari Sekolah Samin, Perpustakaan mini, Kamera adalah alat perubahan, menanam pohon penuh gizi dan jurnalistik kemasyarakatan.
Apakah ide beliau saya tiru tanpa izin? bisa iya bisa tidak, dulu saya selalu DM beliau minta izin idenya saya pakai untuk di lingkungan tempat saya tinggal, beliau bilang kalau mau pakai atau meniru langsung saja ditiru dan disebarluaskan kalau memang perlu dan dibutuhkan.
oke, ini salah satu tulisan beliau yang mau tak share. sila dibaca🙏
KEMISKINAN DAN LITERASI (1)
Oleh Faiz Manshur. Ketua Odesa Indonesia.
Kemiskinan adalah perkara hidup manusia. Pada setiap zaman ada masalah ini. Zaman negara-negara feodal (kerajaan) sarat dengan pertikaian politik karena unsur terbesarnya adalah kemiskinan. Hadirnya nabi-nabi pada agama samawi juga tak lepas dari masalah kemiskinan. Itulah mengapa tidak ada satu pun kitab suci yang lewat dari topik kemiskinan.
Ketika kolonialisme terus menekan dan menciptakan jurang antara kemiskinan dan kekayaan, pada akhirnya usaha pemerdekaan negara-negara terjajah menjadi kebutuhan. Sekarang?
Era demokrasi sejatinya adalah untuk kesetaraan dalam banyak hal. Dan kemiskinan menjadi masalah paling mendasar untuk diselesaikan. Tetapi faktanya, masalah kemiskinan tak kunjung teratasi. Bahkan pada negara yang sudah mampu menyelenggarakan demokratisasi secara baik pun kemiskinan terus menjadi problem mendasar. Indonesia adalah salahsatu negara yang pelik dalam urusan kemiskinan. Kemiskinan kita di dunia termasuk gawat karena lebih dari separuh isi penduduk Indonesia adalah warga miskin.
Pendidikan kita melalui sekolah formal tidak menjadi solusi bagi masalah ini. Keluarga petani yang menjadi mayoritas penduduk di Indonesia terpuruk berkepanjangan sehingga dari generasi ke generasi semakin menghilang. Kita pun kemudian menjadi bangsa yang lemah dalam produksi pangan. Pekerjaan di sektor petani yang tak terhubung dengan industri dan jasa kemudian terlantar. Tersimpulkanlah kemudian bahwa petani yang miskin tidak punya solusi melalui pertanian. Bahkan muncul istilah, untuk menjadi lebih sejahtera maka seorang petani harus beralih menjadi pekerja non pertanian.
Kita punya akumulasi kekeliruan dalam mengelola negara. Kita juga punya akumulasi kekeliruan cara berpendidikan sehingga masalah-masalah mendasar yang melahirkan kemiskinan tak kunjung bisa dientaskan. Negara kita adalah negara yang sibuk urusan politik. Berhenti di sekadar alat permainan kepentingan untuk kemakmuran politisi. Adapun politik sejati, yang mestinya menjadi alat untuk meraih kesejahteraan tak kunjung nyata mewujud.
Para pakar dan lembaga penelitian telah meyakinkan kepada kita bahwa hanya pendidikan-lah yang bisa mengatasi masalah ini. Di dalam pendidikan ada kekuatan besar di mana pola pikir menentukan. Tetapi bagaimana pendidikan yang tepat dan baik untuk setiap orang? Jawabnya adalah penegakan literasi yang esensial. Rumus ini harus menjadi pedoman dalam pendidikan di mana esensi pembelajaran adalah memahami apa yang dibaca, mengamalkan apa yang dipahami dan menuliskan (mendokumentasikan) apa yang diamalkan.
Dengan kata lain, produksi ilmu adalah sebuah syarat mutlak bagi perwujudan kualitas manusia. Tanpa penerapan literasi yang tepat sesuai rumus ini, pendidikan hanya akan melahirkan lulusan yang tak terhubung di masyarakat. Sekolah merdeka dicoba diterapkan di kampus-kampus agar mahasiswa lebih berkesempatan bereksperimen. Tetapi institusi kampus, atau lebih tepatnya para dosen, tak berkemampuan menjalankan praktik-praktik tersebut secara baik di lapangan. Akibatnya banyak mahasiswa yang menjalankan sekolah merdeka sebatas “merdeka” di luar kampus. Kasihan!
Setiap generasi yang ingin bebas dari kemiskinan membutuhkan perangkat paling mendasar yakni literasi. Jika literasi dilakukan secara salah -seperti kebanyakan pada sekolah formal di Indonesia- niscaya tak akan bisa berbuat banyak dalam mengatasi kemiskinan. Masalah ini kemudian menjadi semakin pelik karena kebijakan politik kita tidak memperhatikan secara serius usaha mengatasi kemiskinan ini. Indonesia menjadi sarang orang miskin karena pendidikan yang salah dan tujuan berpolitik yang salah. Akumulasi dari semuanya kita lihat sebagai negara yang tidak adil. Tak ada keadilan sosial di negeri ini. (Bersambung)



Komentar
Posting Komentar