Cerpen Aja dulu
https://photos.app.goo.gl/9LVvzqfGQ8AZE6u17
P E R G I
Aku menuruni bus itu, menyeberang jalan, mencoba peruntungan langit bagi diriku. Sekaligus banyak kerja yang harus ku selesaikan dijalanan.
Tak punya petunjuk, tak punya alamat, hanya sekelebat ingatan akan ucapanmu. Tapi kerinduan mengalahkan akal sehat. Aku tau kabarmu, tidak dengan keberadaanmu.
Bumi ini begitu luas, bagaimana mungkin bisa menemukan rumahmu?
Makhluknya begitu banyak, bagaimana bisa hatiku hanya tertaut pada dirimu?
Andaipun langit berkehendak menuntun kedua kakiku padamu, aku tak tau apa selanjutnya. Selama ini aku hanya mengutuk rindu yang tak pernah diantar.
Kulewati belokan, arah tak lagi penting bagiku, lamunanku lebih mengasyikkan, memang hanya cinta yang bisa membuat orang menikmati pedih. Tak terasa satu jam berlalu. Aku harus selesaikan perjalanan ini. Antara lelah dan desah.
"Wardah?",
satu suara memanggilku dari belakang, suara itu. Aku suka caramu memanggilku. Suara khas dengan logat Indonesia bagian timur. Suara yang ku kenal lewat voice note beberapa silam lalu yang meninggalkan ragam hias kenang disinyal otakku. Tidak salah lagi.
Kebersambungan itu, mengantarkanku pada ingatan-ingatan yang telah lalu. Bahwa kau tidak pernah benar-benar lampau. Bahwa diriku tidak pernah benar-benar lupa atas dirimu.
"Mas",
Batin lirih yang saking lembutnya bahkan bisikpun tak mampu menerjemahkan. Panggil atau hanya igau.
Dipersimpangan jalan itu lekas ku tatap lekat matamu, mata itu, mata - mata yang penuh keragu-raguan. Bukan. Bukan karena ku tak yakin. Tapi, memang karena tentangmu adalah jalan ragu yang pernah ku jalani.
Selangkah ku yakinkan diri, diantara sadar dan sedar, diantara kamu dan aku. Ternyata benar. Cinta selalu menemukan jalan terang.



Komentar
Posting Komentar