Satu diantara pemikiran Gayatri Muthari
Bagi saya pribadi Gayatri Muthari adalah simbol terhadap keluwesan berpikir perempuan Indonesia menyikapi kebhinekaan. Banyak orang yang tidak setuju dengan cara berpikirnya, itu tidak masalah. Ini sengaja dipublish karena semata-mata agar pemikiran beliau tidak hilang begitu saja. Mungkin, juga bisa dinilai saya memang sempat ngefans banget dengan beliau.
Baca aja dulu salah satu hasil pemikiran almarhumah :
Kesejarahan
Secara historis, Musa, Daud, Sulaiman, Yeremiah, Yehezkiel, Zakaria, Yohanes, atau Yesus, bukanlah pemeluk Yudaisme. Orang-orang Yahudi tidak harus berarti menganut Yudaisme.
Para nabi tersebut mungkin terlihat menganut suatu agama rakyat tertentu, namun jelas terlihat dalam dakwah mereka, gerakan mereka selalu non-konformis terhadap "established religions" yang berbentuk populer, arustama maupun menurut kerajaan/kekaisaran.
Agama rakyat adalah di antara agama konsensus yang berkembang dari pengalaman-pengalaman rohani individu dan kabilah dalam merenungkan alam semesta, diri dan kehidupan.
Yudaisme, sama seperti Islam, Kekristenan, dan Samaritan, bahkan juga Mani, Mandaean/Sabian, Druze, dan Bahai, adalah agama-agama rakyat yang di antara mereka berkembang menjadi agama imperialis.
Mereka berbagi mitos-mitos dan mitologi-mitologi tentang Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Daud, dan seterusnya.
Ini terjadi juga di peradaban India dan Tiongkok dan keturunan Indo-Arya yang menyebar ke Anatolia dan Iran saat ini. Zoroastrian berasal dari agama rakyat. Begitu pun Konfucianisme dan Taoisme sebelum kekaisaran Tiongkok memapankan ritus-ritus dan sebagainya.
Yudaisme juga sempat melakukan Yudaisasi, saat menjadi agama imperialis selama abad dua Sebelum Masehi sampai abad delapan Masehi.
Agama natural atau agama arkaik (purba) tidak merumuskan teologi, melainkan ketakjuban terhadap alam semesta, diri, dan segala yang dialami dan dipikirkan seorang individu maupun sekelompok kabilah..
Dari ketakjuban itu, pada sebagian dari mereka, muncul pemikiran dan perasaan yang seringkali sukar diungkapkan mengenai tauhid, melampaui kata-kata.
Dari kesadaran akan tauhid, kemudian pada sebagian muncul upaya memahami dan memaknai dualitas, yang merengkuh realitas adanya dualitas dan kebinekaan, secara non-dualitas.
Di kabilah-kabilah, agama natural itu adalah kaderisasi dimana mereka yang terpanggil akan dibimbing di dalam melalui pengalaman itu, untuk menemukan dan meraihnya, memahami dan memaknai secara huduri.
Para "shaman" adalah mereka yang terpilih dan terpanggil (elected), dikader untuk melalui pengalaman ketakjuban itu, yang harus merasakan dan mengalami sakit dan derita terlebih dahulu sebelum menjadi penyembuh (healer).
Dan, di berbagai tempat, pengalaman ketakjuban itu membawa kesadaran akan tauhid dan kemudian non-dualitas.
İtulah agama para resi seperti Adam, Nuh, İbrahim dan seterusnya yang mitos-mitosnya kemudian dikongsi oleh berbagai agama rakyat.
Pengalaman ketakjuban yang membawa kepada tauhid itulah yang dialami kabilah-kabilah di dalam Kisah Sinai dan yang dialami para individu di dalam teks-teks Taurat, Zabur, Injil dan Alquran.
Ketika tauhid dan teologi apapun didakwahkan untuk dianut, tanpa harus melalui pengalaman ketakjuban itu, inilah agama imperialis. Kita melihatnya pada Yudaisme, Kekristenan dan Islam yang bersifat manifest destiny.
Sufisme - suatu nomenklatur baru - sesungguhnya tidak lain adalah pengalaman ketakjuban itu, yang seperti halnya para shaman itu, mengikuti metode dan transmisi para resi leluhur yang disebut nabi, rasul, imam dan mesias itu.
Dalam perkembangannya, sebagian dari Sufisme pun menjadi agama rakyat, menjadi "established faith" dan bahkan menjadi agama imperialis yang manifest destiny.
Nomenklatur dalam kategorisasi menjadi sulit di sini. Karena orang berpikir Islam adalah ciptaan Muhammad, begitu juga Kekristenan adalah ciptaan Yesus atau Paulus. Dan seterusnya.
Gerakan Islam dipelopori oleh Muhammad, dan dipolitisasi oleh Konsili Saqifah. Namun, agama Islam diciptakan Abdul Malik dkk antara tahun 685-705 M.
Gerakan Kristen dipelopori Yesus, dan didakwahkan Paulus kepada orang-orang Israil yang terhelenisasi di kekaisaran Romawi oleh Paulus. Namun, Kekristenan diciptakan pada abad ketiga oleh para pemuka Romawi yang melihat Yesus Kristus telah diadopsi dalam berbagai agama rakyat setempat.
Gerakan Yudaisme dipelopori oleh Ezra, dan dipolitisasi oleh Hasmonean dkk. Namun, agama Yudaisme diciptakan para Saduki dan Farisi ketika Yesus Kristus mulai berdakwah.
Sebagian Sufisme yang mempertahankan agama naturalnya dalam model agama rakyat yang luwes dan lincah, melihat Muhammad, Yesus, ataupun Ezra sebagai kesatuan berkelanjutan, dan tetap berupaya non-konformis.
İmplikasi dari agama imperialis-konsensus seperti Kekristenan menghasilkan skisma pada abad kesebelas dan Reformasi pada abad keenambelas.
Atau, seperti dalam Islam, mapannya Sunni dan Syiah pada masa Abbasiyah, dan sejumlah gerakan Sufi yang memapankan dirinya menjelang berakhirnya Abbasiyah.
Gerakan-gerakan para nabi dan imam itu bukanlah gerakan yang bertujuan politik. Namun, gerakan-gerakan yang dapat bergerak di ranah politik maupun ekonomi xan sebagainya untuk melepaskan kemelekatan dari imperialisme dan populisme, sehingga memulihkan kembali keadilan dan kemanusiaan.
Gerakan-gerakan keagamaan mereka itu bukan kultus, untuk merumuskan formula teologi atau memapankan suatu ritual apapun. Namun, gerakan-gerakan keagamaan untuk seluruh kehidupan dalam kesejahteraan, untuk satu kemanusiaan, kesetaraan, dan kesejahteraan bersama.
Sementara itu, kita lihat berbagai gerakan keagamaan yang tanpa sanad atau pun tanpa kembali kepada yang arkaik/natural itu, menjadi kultus dan lebih berfokus kepada teologi dan ritual belaka. Begitu pun sebagian besar kelompok Yudaisme, Kekristenan dan Islam.
Hal tersebut terjadi karena kebanyakan dari kita beragama tanpa melalui pengalaman ketakjuban yang nyata dan huduri itu.
Tentu saja pengalaman ketakjuban itu juga dapat membawa kepada politeisme, henoteisme, deisme, dan tauhid yang dualis.
Namun, yang saya fokuskan dalam tulisan ini adalah agama pohon hayat para nabi dan rasul dan imam dalam rumpun nabi İdris/Enokh yang di dalamnya terdapat Adam-Hawa, Nuh, Ibrahim, Musa, Daud, Ilyas, sampai Maria, Yesus, Muhammad, Fatimah dan Ali.
Mereka semua adalah kesatuan berkelanjutan dari model agama natural yang menemukan tauhid non-dualitas dalam ketakjuban mereka melalui berbagai pengalaman dari masa nomadik dan menetap sampai masa kolonialisme dan imperialisme.
Sementara tetangga-tetangga mereka meyakini henoteisme, politeisme, dualitas, deisme, ateisme, agnostisme dll. Dan tidak jarang mereka harus hidup di bawah paksaan harus mengikuti agama kerajaan dan kekaisaran di tempat mereka hidup.
Sidhamastu,
HBoE.
https://linktr.ee/wardatul123






Komentar
Posting Komentar