Cerpen Aja dulu


SIPON KLIWON

Kusnia

Tapi, bukankah sebagian takdir selalu hadir mendadak tanpa memberi kesempatan untuk membuat kehadirannya jadi masuk akal?

 Sepagi ini muda-mudi itu sudah tampak bahagia, senyum merekah, dengan banyak ekspresi yang tak dapat mewakili perasaan keduanya. Gundah dengan berbagi pertanyaan, bagaimanakah hidup di kota besar yang jauh dengan orang tua? Dilain sisi Husen dan Malela adalah kita semua, potret anak desa lulus dari SMA yang ingin sekolah tinggi di Ibukota, suatu kebanggaan tersendiri mampu menembus SNAMPTN dan mampu lolos untuk melanjutkan belajar. Pagi itu, diantar kedua orang tua mereka hendak ke ibu kota tempat mereka menimba ilmu. Husen dan Malaila yang akrab disapa dengan Malela, menangis sesenggukan tetapi tetap tersenyum memeluk erat sang ibunda.

Ibu, baru merasakan apa yang dikatakan mbahmu dulu?

Apa buk, tanya Malela

Bahwa mbah utimu cukup sakit hati jika ditinggal jauh enduknya meski mencari ilmu, ibunya menjawab dengan tetesan air mata yang sesekali diusap oleh Malela.

Keduanya saling pandang lama, arti bahwa kerinduan ibu yang mengandung , melahirkan, merawat dan menyusui akan benar-benar terasa. Ibu perumpamaan surga bagi setiap anak yang tumbuh dengan kesadaran atas kasih sayangnya. Kepergian selalu menyisakan kegelisahan bagi yang ditinggal maupun yang pergi, meski sementara justru kesementaraan menghasilkan angan – angan yang Panjang.

Husen menepuk pundak Malela, tanda kereta yang tiketnya mereka pesan sudah datang.  

###############

Beda dengan Husen dan Malela, Kliwon adalah teman mereka sejak bangku tsanawiy. Terlahir sebagai yang tak sempurna membuat KLliwon dirundung rasa minder setiap hari hingga kini. Dia tak menginginkan itu terajadi padanya pun ibu Kliwon juga begitu. Namun sebaliknya, ayah Kliwon setiap hari menyalahkan ibunya yang tak becus merawat anak dan melahirkan jabang bayi tak sempurna. Ia lupa bahwa kesempurnaan hanyalah milik yang maha kuasa. Hingga suatu hari ayah Kliwon pergi, entah kemana. Kliwon kecil memanggil-manggil ayahnya, ingin bertemu dan bermain. Ibunya kebingungan, sore tiba tak kunjung terlihat, adzan maghrib berkumandang ayah Kliwon tak nampak barang hanya bayang-bayangnya saja. Ibu Kliwon, bergegas mengajak Kliwon ke Pasar Sambi, tempat biasa ayah Kliwon menunggu orang-orang untuk memakai jasanya sebagai ojol (ojek online). Menggendong Kliwon

 sedang menangis berada didepan Pasar Sambi, wilayah Ringinrejo, Kediri bagian paling selatan. Tetiba hujan datang, ketertibaannya membuat orang disekitar jalan raya buyar mencari tempat berteduh. Tak terkecuali Kliwon dan ibunya. 

 Disaat yang sama, ibu Malela melihat keduanya. Sebagai tetangga jauh ia heran. Baru saja dilihatnya ayah Kliwon menaiki motor dengan seorang perempuan yang dikira ibu Malela adalah Mbak Pon ibu Kliwon. Ia menaruh curiga sebab ayah Kliwon tak biasanya berpakaian beitu rapi, tidak memakai jaket dinasnya. 

 mbak pon, mau kemana hujan-hujan mendung ngene?

 nggak kemana-mana Bu Shati, ini Kliwon dari tadi memanggil-manggil ayahnya

 hoallaah le, mengko bapak pulang. Sekarang pulang ya, bujuk ibu Malela mengiba

Perasaan kecewa campur aduk dengan kasihan sebagai sesama perempuan membuat Bu Shati makin lama makin tak tega melihat mereka berdua.

  wes ayoo, mulih karo aku wae. Mulih ya le, mengusap kepala Kliwon.

 Kliwon tetap menangis merengek meminta bertemu ayahnya. Ibu Shati, sambil menyabarkan diri minta undur diri cepat-cepat karena sudah dijemput suaminya. 

 Perempuan selalu jadi potret hati yang lapang, perangai yang sabar, dan isak tangis yang disembunyikan. Tak lama dari kejadian sore itu, tersiar kabar ayah Kliwon tergoda dengan perempuan yang mengajaknya menikah lagi. Pilihan lari dari keluarganya dan menikah lagi, menurutnya adalah pilihan yang paling tepat. Mendengar semua itu, langit seperti runtuh, bumi bergoncang, dan hati ibu Kliwon yang biasa disapa Mbak Pon terbolak-balik tak karu-karuan. Antara bersabar dan meluapkan amarah, antara tetap menyebut asmaNYA sebagai zat yang maha kuasa atas segala kejadian atau mengeluarkan makian untuk suami dan perempuan yang telah merebutnya. Demi waktu yang terus berganti, seiring itu pula Kliwon yang tumbuh meski dengan cacat bawaan, membuat Mbak Pon semangat bekerja. Diam adalah jawaban untuk kejadian masa lalunya. Kini ia memilih bekerja sebagai penjual bakso di kantin sekolah. Tawaran menikah lagi dari beberapa lelaki yang mengenalnya tak ia hiraukan. Hidupnya diisi dengan bekerja, kemudian membangun rumah meski seadanya, mampu membeli motor, dan menyekolahkan Kliwon, terakhir ia mampu membelikan kaki palsu untuk Kliwon sehingga anaknya dengan senang hati bisa bermain sepak bola. Perempuan desa dengan pencapaian sebanyak itu, adalah perkara yang hebat apalagi sebagai single parents. 

 Paginya diisi dengan belanja ke pasar, kemudian berangkat kesekolah tempat ia berjualan. Ditemani dua asistenya Mbak Pon bergiat di dapur dan melayani siswa-siswi yang membeli baksonya dengan penuh semangat. 

 Tahun ini, Kliwon sudah tsanawiy itu artinya setiap ia sekolah pasti akan bertemu ibunya. Tak terkecuali setiap istirahat ia akan membantu ibunya berjualan bakso. Ya, Mbak Pon adalah penjual Bakso di Stanawiyah Taman Siswa Ki hajar Dewantara Kediri merupakan satu-satunya Tsanawiyah swasta terbaik di Kediri. 

Buk, kalo pas istirahat aku pengen kayak teman yang lain bermain dan bercanda gurau.

hoallaaah won, kliwon apa kamu lupa. Bisa masuk kesini itu gimana?

yaaaa, gak gitu to buk. Temen-temenku baik semua.

ya emang baik, tapi kamu harus sadar diri kamu itu siapa?.

Mendengar ibunya mulai ngomel seribu alasan membuat Kliwon malas bergerak. Ibu Kliwon mengalami trauma psikis cukup berat setelah kepergian suaminya sepuluh tahun yang silam. Keahliaannya membuat bakso diketahui Bu Shita yang kebetulan saat itu membutuhkan tenaga untuk membantunya membuat pesanan menu bakso. Kebetulan, suami Bu Shita adalah komite tertinggi untuk Madrasah Tsanawiyah Taman Siswa. Tanpa perundingan yang panjang , atas keputusannya sendirilah Bu Shita ingin menolong keluarga malang itu, dengan merekomendasikan Mbak Pon jualan di kantin sekolah. Usut punya usut Mbak Pon diberi wadah, hingga sampai pada puncak KLiwon juga diterima di sekolah unggulan tersebut. Bukan maksud merendahkan, sebagai penyandang disabilitas Kliwon mampu mengimbangi semua kecakapan untuk anak seusia yang terlahir sempurna. Bahkan kemampuan otaknya lumayan tinggi .

Mbak Pon, dengan segala kegelisahannya selalu mengingatkan Kliwon tentang kejadian hidup yang menimpa dirinya dan Kliwon. Disaat itulah Kliwon hanya bisa melangitkan doa, mengetuk pintu langit, membaca shalawat untuk dirinya dan untuk ibunya. Agar segala kegundahan hilang sirna terbawa angin semesta yang entah kemana ujungnya. Kliwon dengan kesadaran penuh ia merasa bahwa orang – orang mengharapkan hal yang tidak mungkin dicapainya benar-benar terjadi padanya.

Lain Mbak Pon lain Bu Shati bagaimana ia selalu bangga dengan anaknya yang terlahir kembar, lucu dan pinter. Banyak kelegaan dihatinya bisa menolong Mbak Pon untuk ikut berjualan di kantin sekolah tempat ia mengajar. Hampir semua orang membicarakan kisah mereka. Perempuan tidak bercerita tetapi membuka rahasia satu sama lain.

########

Sayup - sayup terdengar angin mendung datang bersamaan dengan petang, sebelum hari gelap, Bu Shati keluar rumah mencari anaknya yang sedang bermain.

“Husen - Malela ayo pulang sebentar lagi hujan.” Panggil Bu Shati dengan suara keras. Lekas bergegas semua anak-anak tidak hanya Husen dan Malela pulang menuju rumah masing-masing. Dipersimpangan jalan ia bertemu dengan Mbak Siti pemilik warung pecel langganan keluarga Shati,

“Bu Shati, Bu Shati pripun kabare kok hampir tidak pernah kelihatan?” tanya Mbak Siti.  

“Baik Mbak, kulo sudah ngajar langsung istirahat nggeh di rumah saja. Monggo Mbak Siti pinarak”, ajak Bu Shati.

“iya moga-moga besok bisa mampir rumah njenengan” balas Mbak Siti. 

Mereka pulang dengan mengambil jalannya masing-masing menuju peraduan, musim hujan yang menyisakan kenangan dan selimut dingin. Setahun berlalu persis seperti hari ini petang dengan mendung yang hampir menjatuhkan hujan. Saat itu didapatinya suaminya pergi bersama perempuan lain, ia ketahui perempuan itu bernama Syifahana berprofesi sebagai penagih kredit di Pasar Sambi. Belakangan ia tahu bahwa perempuan itu biasa dipanggil SIPON. 

Komentar

Postingan Populer