Arok Dedes masih relevan atau tidak yang penting kapan - kapan ke Malang biar tau titisannya Ken Arok


Dedes : Relasi Perempuan Terhadap kekuasaan dalam karya Pramoedya


 “Ken Arok abad ke 13 datang padaku dalam pengasingan di Buru. Tanpa Buru barang tentu ia takkan temukan aku, dan dia akan tinggal terkerangkeng dalam legenda. Para dewa utama abad 13 itu masih tetap dewa utama abad 20, penguasa modal, teknologi, informasi. Hanya, waktu kutulis kisah Arok dan Dedes dalam pengasingan di Buru, penampilannya aku persolek dengan tafsiran baru agar dapat keluar dari kerangkeng legenda. Begitulah Pramoedya menggambarkan proses kreatif munculnya cerita Arok Dedes dalam essaynya yang berjudul Maaf Atas Nama Pengalaman. Pram tidak hanya sekedar menceritakan kembali kisah Ken Arok dan Ken Dedes seperti dalam Pararaton. Ia menggambarkan Ken Arok sebagai sosok yang kompleks dengan kepintaran bijaksana yang ketika mengenalkan diri kepada gusti putra mengatakan, aku berasal dari sudra, berlaku satria, berhati Brahmana panggil sesuka hatimu.. Ken Dedes digambarkan sebagai gadis keturunan brahmnana, ia cerdik, cantik dan pandai. Saking cantiknya ia dianggap dewi diatas bumi. Kecantikanya membuat siapa saja yang melihat jatuh cinta. Termasuk Arok yang notabene saat itu adalah utusan yang menyusup ke Istana Tunggul Ametung ikut mengagumi kecantikan Ken Dedes.

 Novel Arok Dedes lebih dari sekedar roman belaka, berlatar sejarah masyarakat Jawa Pramoedya menggambarkan kudeta pertama ala Jawa di Nusantara. Melalui karakter Ken Arok yang mampu merebut kekuasaan Tunggul Ametung dan kemudian menguasai Kediri bersama Ken Dedes. Pramoedya berhasil merangkai kisah sejarah dengan sentuhan sastra yang kuat sehingga lebih mudah dipahami oleh umum. Ada beberapa tokoh perempuan yang cukup menonjol dan kuat karakternya dalam novel ini. Meskipun zaman telah berubah, isu-isu yang diangkat dalam novel ini, seperti relasi kuasa, objektifikasi perempuan, dan perjuangan untuk mendapatkan pengakuan, masih relevan dengan banyak perempuan di era modern.

  Ken Dedes diceritakan sebagai gadis Desa Panawijil, seorang brahmani anak dari Mpu Parwa. Sejak kecil ia hanya diasuh oleh bapaknya karena ibunya telah meninggal. Dedes kecil menjadi gadis yang rupawan, cerdik dan pandai. Sebagai brahmani Dedes diceritakan mampu baca tulis sansakerta. Mengerti suara dewa yang dibisikan pada manusia sebagai petunjuk hidup. Dalam konteks sejarah Dedes seringkali dihubungkan dengan mitos dan legenda. Bahwa sosoknya dipercaya akan menurunkan raja raja masyhur. Pramoedya menceritakan bahwa Ken Dedes diculik Tunggul Ametung untuk dinikahinya atas saran brahmana Arya Artya, dengan dalil Dedes akan memberinya keturunan dan membawa keberuntungan. Hal itu sesuai dengan ramalan resi candi Erlangga kelak Dedes akan membawa kejayaan. Arya Artya adalah sosok Brahmana yang terpinggirkan, hidup sebatangkara dan tidak mempunyai murid. Setelah sarannya untuk menikahi Dedes dipenuhi oleh Tunggul Ametung ia mengira bakal mendapatkan posisi di Pakuwuan. Ternyata perkiraannya meleset ia tetap dipinggirkan. Tau begitu ia sendiri yang bakal menikahi Dedes. Dalam novel seringkali Dedes digambarkan sebagai objek keinginan para tokoh laki-laki. Kecantikannya menjadi alat untuk meraih kekuasaan dan pengaruh. Hal ini merefleksikan fenomena objektifikasi perempuan yang masih sering terjadi di masyarakat modern, di mana perempuan seringkali dinilai berdasarkan penampilan fisiknya semata.  

  Ken Dedes terperangkap dalam pusaran politik kekuasaan. Ia menjadi korban ambisi Tunggul Ametung dan tidak memiliki banyak pilihan dalam menentukan nasibnya. Diketidakberdayaan inilah Dedes bertemu dengan Rimang. Dalam Novel dituliskan percakapan antara Dedes dan Rimang, tidakkah kau pernah bersuami? Bukan hanya bersuami, Yang Mulia. Dahulu sahaya pun ada dua orang anak semua lelaki. mengapa kau tinggalkan mereka, sama dengan Yang Mulia, diambil dari rumah dan disekap dalam keputrian sampai sekarang. Dari cerita inilah Dedes bertekad untuk membalas dendam dan ikut menguasai Pakuwuan Tumapel. Persamaan nasib antara Dedes dan Rimang adalah contoh bagaimana perempuan terpinggirkan dan tidak mampu melawa kekuasaan pada zamannya. Dipertengahan cerita karena dianggap berhasil menghasut Dedes, Rimang akhirnya dibuang ke pendulangan Kali Kanta. Disinilah ia mulai bertemu dengan Ken Arok, ia mendedikasikan diri menjadi pengikut Ken Arok. Rimang adalah salah satu pendukung utama Ken Arok dalam perjuangannya merebut kekuasaan. Ia terlibat langsung dalam berbagai peristiwa penting, seperti kudeta terhadap Tunggul Ametung dan pendirian kerajaan Singasari. Rimang menjadi sahabat setia Ken Arok, kesetianya yang buta membuatnya relas melakukan apa saja untuk membantu sahabatnya meskipun itu merugikan dirinya sendiri. Situasi ini mencerminkan seringkali perempuan menjadi jalan target ambisi kekuasaan. Mereka terjebak dalam situasi sulit untuk memilih jalannya sendiri. Hasil dari keterpaksaan-keterpaksaan membuat mereka pasarh ada kondisi yang minim resiko.

Selain Dedes dan Rimang. Pramoedya juga menonjolkan karakter Oti. Melalui tokoh Oti, Pramoedya menyoroti peran pelayan dalam masyarakat pada masa itu. Ia menunjukkan bahwa pelayan bukanlah sekedar pembantu, tetapi juga manusia yang memiliki perasaan dan pemikiran. Saat pertama kali melihat Ken dedes pada arak-arakan perkawinannya dengan Tunggul Ametung, Oti mengungkapkan perasaan mendalamnya, dia memiliki segala. Dia dewi diatas bumi itu. Dan aku? Diriku sendiri pun tidak, dan selama ini tak pernah jadi milikku sendiri. Layaknya perempuan lainnya Oti juga memiliki keinginan untuk bebas, menjadi dirinya sendiri dan hidup layaknya perempuan lain. “Ia pernah dengar budak lelaki dipekerjakan di pembakaran batu bata dan dipembelahan batu. Ia merindukan tempat yang tak di ketahui namanya itu. Ia merindukan bayi yang dapat digendong dan ditimangnya. Ia akan menyanyikan untuknya lagu-lagu dari kampungnya dulu di muara sungai. Mungkinkah itu? Maukah dan mampukah orang itu menebus dari Pakuwuan ini? Sedang mereka tak mampu menebus diri mereka sendiri?”. Pada akhir cerita digambarkan perjumpaan Oti dengan ken Arok dan Dedes. Ia menjadi jembatan komunikasi antara Dedes dan orang orang disekitar kerajaan. Nasib Oti yang tidak jelas dapat diartikan sebagai simbol dan nasib banyak orang biasa yang hidup dibawah bayang-bayang kekuasaan. 

  Umang, karakter utama seorang perempuan selain Dedes yang digambarkan oleh Pramoedya sebagai prajurit yang handal dan barangkali ia adalah pemimpin perempuan pertama dalam novel Arok Dedes. Dalam masa masa penguasaan wilayah ketika hendak menggulingkan Tunggul Ametung, Umang selalu mendapatkan kepercayaan dari Ken Arok untuk memimpin sebuah pasukan. Umang adalah anak bungsu Ki Bango Samparan, ia adalah anak perempuan satu-satunya yang dimiliki ki Bango Samparan. Sedangkan Ken Arok adalah anak angkat Bango Samparan. Bango Samparanlah yang menyuruh Ken Arok belajar kepada Bapak Tantripala, yang pada akhirnya mengantarkan Arok bertemu dengan guru-guru selanjutnya sampai pada Dang Hyang Lohgawe. Umang adalah istri pertama Ken Arok yang kemudian bergelar Ken Umang. Hubungan mereka dimulai dari kehidupan sehari-hari di desa, dimana keduanya saling kasih mengasihi sebagi abang dan adik, saling mengenal dan tumbuh bersama. Cinta mereka murni dan sederhana, jauh dari intrik politik kerajaan. Setelah menikah dengan Ken Arok, umang menjadi seorang ibu. Ia melahirkan beberapa anak, termasuk Tohjaya yang kelas menjadi penyebab kematian Ken Arok. 

 Meskipun memiliki peran penting dalam sejarah berdirinya Kerajaan Singasari, nasib Umang terbilang Tragis. Ia hanya menjadi selir bagi Ken Arok, yang kemudian lebih memilih Dedes sebagi permaisuri. Sosok sebagai wakil rakyat jelata yang ikut terlibat dalam perjuangan merebut kekuasaan. Ia menunjukkan bahwa perjuangan tidak hanya dilakukan oleh para bangsawan, tetapi juga oleh orang orang biasa. Kisah Umang juga menyoroti nasib perempuan pada masa itu. Meskipun memiliki peran penting perempuan harus meneriman posisi yang lebih rendah dalam masyarakat. Jika dibandingkan dengan Dedes, Umang memiliki karakter yang lebih sederhana dan dekat dengan rakyat. Dedes digambarkan sebagai perempuan yang cerdas, lihai berpolitik, dan memiliki ambisi untuk meraih kekuasaan. Sementara Umang lebih digambarkan focus pada memerdekakan budak-budak dan cinta terhadap keluarga. Umang menjadi simbol perjuangan perempuan dengan relasi kekuasaan pada masa itu.

Dari Pramoedya menulis novel tentang Arok Dedes kita menjadi lebih tau bahaya kesewenang-wenangan dan ambisi terhadap kekuasaan. Selain hal itu, perjuangan Ken Dedes untuk mendapatkan tempat dalam dunia politik dapat dikaitkan dengan perjuangan perempuan modern untuk mencapai kesetaraan gender dalam bidang politik. Dedes yang awalnya terpuruk mampu bangkit dan menjadi Dedes yang memiliki pengaruh terhadap jalannya kerajaan Singasari. Melalui kisah Dedes, Pramoedya mengajak pembaca untuk merefleksikan tentang koleksitas manusia, dinamika kekuasaan, dan peran perempuan dalm sejarah. (Wardah)



https://linktr.ee/wardatul123


https://tiktok.com/@wardahkusnia1



Komentar

Postingan Populer